Assalamu'alaikum.. Hai! Namaku Cut Mutia Fahira, biasanya dipanggil Cut atau Icut. Aku berasal dari Bina Antarbudaya Medan. Akhirnya aku sampai di negara Super Power ini. Terima kasih kepada seluruh pihak khususnya Bina Antarbudaya yang telah membantu kami mewujudkan mimpi besar ini. Sudah hampir 2 bulan aku berada di Amerika Serikat (AS) sejak kedatanganku Agustus lalu. Aku tinggal di Bluffton, Indiana. Banyak hal baru dan menarik kutemukan di sini. Mulai dari sistem satuan ukur Amerika yang mereka gunakan seperti Fahrenheit, miles, feet, inches, pounds, dan lain-lain.
Sekolahku bernama Norwell High School. Tiap sekolah di Amerika memiliki maskot sekolahnya masing-masing dan maskot sekolahku adalah ksatria (Knight). Aku adalah Norwell Girl’s Knight of 2014-2015. Minggu pertama khususnya hari pertama di sekolah cukup menyenangkan. Aku berjalan mengelilingi sekolah karena aku bingung dimana kelasku. Aku sering tersesat. Sampai hari terakhir di minggu pertama aku masih membawa peta sekolah kemanapun, terkadang aku bingung membacanya dan aku putar-putar peta tersebut.
Berbeda dengan Indonesia yang menggunakan Sistem Internasional (SI) yang juga digunakan hampir seluruh dunia. Tapi hanya Amerika yang menggunakan sistem berbeda. Aku ingat saat itu aku meminjamkan penggaris yang kubawa dari Indonesia kepada temanku di kelas Jerman. Dia baru saja mulai mengukur dan melihat satuan penggarisku adalah centimeter.
Lalu dia berkata, “Gees, it is centimeter not inch. What kind of ruler is it?” Lalu aku berkata, “Sorry Darah, I forgot that you guys use inch. 1 inch is 2.54 centimeters. America is different for everything.” Dia menjawab, “Yeah, you guys use Matrix or International System. I don’t know what the hell is going on with America. We are crazy, aren’t we?” Lalu aku jawab, “Not really.”
Sekolahku bernama Norwell High School. Tiap sekolah di Amerika memiliki maskot sekolahnya masing-masing dan maskot sekolahku adalah ksatria (Knight). Aku adalah Norwell Girl’s Knight of 2014-2015. Minggu pertama khususnya hari pertama di sekolah cukup menyenangkan. Aku berjalan mengelilingi sekolah karena aku bingung dimana kelasku. Aku sering tersesat. Sampai hari terakhir di minggu pertama aku masih membawa peta sekolah kemanapun, terkadang aku bingung membacanya dan aku putar-putar peta tersebut.
Beruntungnya di hari pertama sekolah banyak orang baik yang membawaku ke kelas. Berbeda dengan cara belajar di Indonesia, di sini aku melakukan moving class (pindah kelas). Aku memiliki 7 kelas dan setiap hari aku belajar pelajaran yang sama. Cukup melelahkan karena harus berpindah kelas dan hanya memiliki 5 menit untuk berjalan ke kelas. Di sini aku punya loker pertama dengan kombinasi nomor yang cukup rumit. Jika aku salah memutar satu nomor saja, maka aku harus memutar dari awal lagi. Tetapi setelah beberapa hari aku mulai terbiasa dengan sederet kebiasaan baru itu.
Aku mempunyai sedikit masalah dengan namaku. Orang Amerika sulit menyebut namaku. Mungkin karena ejaan yang berbeda sehingga terdengar aneh bagi mereka. Oleh karena itu mereka butuh 3 atau 4 kali latihan menyebut namaku. Biasanya nama pertama yang mereka sebutkan setelah kuperkenalkan namaku adalah “Chu, Chit, Syut, Chot, Cut (baca: kat), atau Cat (baca: ket)”. Berat memang ketika orang memanggil kita dengan banyak nama tapi tak ada satupun yang benar. Bahkan kepala sekolah dan konselorku butuh satu hari untuk latihan menyebut namaku dengan benar.
Ada beberapa kebiasaanku yang berubah selama di sini. Di Indonesia, aku selalu makan nasi untuk makan pagi, siang, dan malam setiap hari. Jika pagi saja aku tidak makan nasi, biasanya aku akan sakit perut. Tapi Allah memang Maha Penolong. Di sini aku hanya makan tortilla atau roti selai setiap pagi tapi aku tidak sedikit pun merasakan sakit perut. Makasih ya Allah.
Aku mempunyai sedikit masalah dengan namaku. Orang Amerika sulit menyebut namaku. Mungkin karena ejaan yang berbeda sehingga terdengar aneh bagi mereka. Oleh karena itu mereka butuh 3 atau 4 kali latihan menyebut namaku. Biasanya nama pertama yang mereka sebutkan setelah kuperkenalkan namaku adalah “Chu, Chit, Syut, Chot, Cut (baca: kat), atau Cat (baca: ket)”. Berat memang ketika orang memanggil kita dengan banyak nama tapi tak ada satupun yang benar. Bahkan kepala sekolah dan konselorku butuh satu hari untuk latihan menyebut namaku dengan benar.
Ada beberapa kebiasaanku yang berubah selama di sini. Di Indonesia, aku selalu makan nasi untuk makan pagi, siang, dan malam setiap hari. Jika pagi saja aku tidak makan nasi, biasanya aku akan sakit perut. Tapi Allah memang Maha Penolong. Di sini aku hanya makan tortilla atau roti selai setiap pagi tapi aku tidak sedikit pun merasakan sakit perut. Makasih ya Allah.
Pertama kali aku mengira bahwa akan sulit menemukan nasi di Amerika. Walaupun ada tapi pastinya mahal karena tidak ada sawah di Amerika. Inilah hal yang mengejutkanku ketika pertama kali aku sampai di rumah dan host mother memasak nasi berwarna coklat dan ternyata mereka suka makan nasi dan ada banyak beras dijual di Walmart. Harganya pun murah. Mulai sekarang aku tahu satu hal. Aku tidak akan merindukan nasi. Hampir semua makanan di sini creamy dan cheesy. Tapi itu diseimbangkan dengan sayur dan buah.
Di rumah aku tidak sering mengonsumsi buah dan sayur, tapi di sini aku harus mengonsumsi keduanya setiap hari. Kemarin ketika aku skype dengan keluargaku mereka bilang aku terlihat lebih gemuk. Aku memang makan banyak sekali di sini.
Bulan September lalu di Hari Buruh (Labor Day), ada suatu kebiasaan yang namanya Cook-Out. Jadi seluruh anggota keluarga termasuk kakek dan nenek datang ke rumah untuk makan besar keluarga. Kami memanggang daging dan membuat kue. Aku sangat senang hari itu karena aku puas menghabiskan banyak makanan.
Satu hal yang aku tidak pungkiri adalah aku merasa kedinginan setiap hari. Minggu lalu aku baru merasakan temperatur terendah selama hidupku yaitu 5 derajat Celsius. Terkadang pun dalam rumah terasa lebih dingin daripada di luar. AC selalu hidup. Dan aku masih merasa asing berada di ruangan ber-AC setiap saat. Aku juga sering kedinginan di sekolah, apalagi ada beberapa kelas yang AC-nya sangat dingin.
Bulan September lalu di Hari Buruh (Labor Day), ada suatu kebiasaan yang namanya Cook-Out. Jadi seluruh anggota keluarga termasuk kakek dan nenek datang ke rumah untuk makan besar keluarga. Kami memanggang daging dan membuat kue. Aku sangat senang hari itu karena aku puas menghabiskan banyak makanan.
Satu hal yang aku tidak pungkiri adalah aku merasa kedinginan setiap hari. Minggu lalu aku baru merasakan temperatur terendah selama hidupku yaitu 5 derajat Celsius. Terkadang pun dalam rumah terasa lebih dingin daripada di luar. AC selalu hidup. Dan aku masih merasa asing berada di ruangan ber-AC setiap saat. Aku juga sering kedinginan di sekolah, apalagi ada beberapa kelas yang AC-nya sangat dingin.
Host family bilang musim panas tahun ini berbeda dari biasanya, lebih dingin. Musim panas saja begini dinginnya bagaimana dengan musim dingin. Aku enggan memikirkannya sekarang. Entah berapa lapis baju akan kupakai. Sekarang saja aku selalu pakai 2 lapis baju dan masih dingin.
Musim gugur sudah tiba. Beberapa pohon sudah berubah warna. Bulan Oktober adalah waktu yang sempurna dimana daun-daun akan berubah warna menjadi merah, orange, kuning, dan coklat. Musim gugur adalah musim yang kutunggu-tunggu karena pemandangan di sepanjang jalan pasti akan sangat indah. Sampai jumpa di newsletter selanjutnya!
Musim gugur sudah tiba. Beberapa pohon sudah berubah warna. Bulan Oktober adalah waktu yang sempurna dimana daun-daun akan berubah warna menjadi merah, orange, kuning, dan coklat. Musim gugur adalah musim yang kutunggu-tunggu karena pemandangan di sepanjang jalan pasti akan sangat indah. Sampai jumpa di newsletter selanjutnya!
Comments